Langsung ke konten utama

oleh2 dari banggai : Hongkong nya Indonesia, Raja Ampat Kecil Sulawesi

Banggai. Ada yang pernah mendengar? Atau Luwuk mungkin? Sedikit asing bagi anda bukan? Belakangan ini yang sedang gencar diberitakan  mengenai kerusuhan pemekaran Kabupaten Luwu. Namun, bukan Luwu ini yang akan saya ceritakan. Ya, Kabupaten ini sama-sama di Pulau Sulawesi, tapi berbeda Propinsi. Jika y terletak di Sulawesi Selatan maka Luwuk terletak di Sulawesi Tengah. Lalu ada apa dengan Luwuk ? apakah sama-sama rusuh seperti kabupaten-kabupaten Sulawesi lain yang terkenal dengan sumbu pendek nya? ini yang akan saya kisahkan. Ketakutan anda semua akan berbalik menjadi ketertarikan luar biasa untuk berkenan mengunjungiya.
Luwuk Banggai, tempat sejuta kenangan yang sempat membuat saya memohon untuk ditinggal saja oleh pesawat Hercules TNI rombongan Ekspedisi NKRI. Saya sangat ingin mengungkapkan rasa syukur saya, rasa cinta saya yang begitu meluap-luap dan rasa terima kasih saya kepada alam serta masyarakat Kabupaten Banggai yang telah menerima saya. Saya tidak mungkin bisa melupakan setiap detik hidup saya di sana, mengelilingi dan menapakan kaki di setiap jengkal tanah kabupaten Banggai selama 5 bulan rasanya membuat saya wajib untuk suatu saat kembali lagi kesana. Kembali melihat kearifan lokal atau mungkin perubahan yang terjadi, bersama anda.

Pesawat Hercules TNI AU yang saya tumpangi mulai landing, hampir selama 6 jam saya diguncang pesawat barang ini sejak dari bandara Husain Kartanegara Bandung. Bagi saya begitulah rasanya naik pesawat, karena sebelumnya saya juga tidak pernah merasakan menaiki pesawat normal. Kemilau warna biru memantul dengan cantik ketika saya menuruni Hercules, kaca mata yang selama perjalanan saya pakai sebagai kamuflase tidur saya lepaskan, tidak peduli kalau ini tepat pukul 12 siang dan matahari nampaknya tersenyum sempurna. Waw! Bandara ini mampu membuat saya berdiri lama-lama mengagumi alam sekitar ciptaan Maha Pencipta. Kekecewaan saya mungkin sudah terbayar lunas mulai detik itu karena sebelumnya saya sempat menyesal  mengapa saya tidak ke Tana Toraja saja, Sulawesi yang sesungguhnya, begitu kata orang-orang.
Bandara Syukuran Aminuddin Amir sebenarnya sederhana, luasnya 1850 x 30 meter dengan rute penerbangan Luwuk-Jakarta-Makasar PP.  Lokasinya yang tepat di tepi laut sangat unik bagi saya. Dengan bangunan utama yang melayang di atas jalan raya berbentuk cangkang burung maleo.
Setelah acara penyambutan oleh putra-putri Banggai dan  tarian monsoput kami dijamu aneka menu makan siang khas daerah. Orang Sulawesi selalu makan dengan ikan, maka tidak heran jika aneka masakan berbahan baku ikan tersaji dengan cantik dan tentunya menggugah selera. Kami juga mulai memakan pisang goreng yang dicocol dengan sambal ikan roa, namanya pisang lowe, pisang khas daerah Banggai. Setelah makan siang kami memulai perjalanan, memasuki Kota Luwuk yang semakin membuat saya penasaran.

Kabupaten Banggai yang ber ibu kota di Luwuk terletak di Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya ujung timur propinsi, berbatasan dengan Kabupaten Morowali, Tojo Una-una dan Laut Maluku, tepatnya secara astronomis pada  0° 30' - 2° 20' LS  dan 122° 23' - 124° 20' BT. Dengan luas daerah di tahun 2013 yaitu 9672,70 km2,  Kabupaten Banggai lebih luas sebelum adanya pemekaran wilayah kabupaten Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Jika anda sempat mengamati peta maka akan sangat mudah menemukannya. Yakni ujung huruf K tengah atas yang bentuknya mirip kepala burung. Dan apakah yang anda bisa pikirkan ketika melihat bentuk daratan yang cukup unik seperti itu ?
Bis yang membawa rombongan mulai menelusuri jalan-jalan di Kota Luwuk, rumah-rumah berjajar rapi dengan atap seng yang menjadi ciri khas. Masyarakat setempat lebih suka menggunakan atap seng bukan karena tidak mampu membeli genting tapi lebih dari itu karena di daerah ini memiliki curah hujan yang cukup tinggi, jadi atap seng cukup untuk menahan air yang berjatuhan selama bertahun-tahun. Sepanjang perjalanan pula, tepat di sisi selatan kita akan disuguhi dengan deretan pantai yang tak jemu-jemu bosannya kita pandang. Pantai yang amat jernih sehingga terumbu karang terlihat jelas, sementara di sisi utara memanjang dari timur ke barat serta amat mencolok terlihat dari kota adalah dataran tinggi kapur yang tertutup karpet hijau, hanya beberapa proyek pembangunan yang seakan membuka kulit pegunungan sehingga terkelupas menjadi putih. Kota Luwuk memang tidak rata, ada dataran yang lebih tinggi sehingga kita bisa melihat kota dengan segala aktivitasnya melalui dataran tinggi tersebut, tepatnya masyarakat menyebut dengan titik Keles.
Barangkali anda juga tidak pernah menyangka bahwa Luwuk dalah tempat favorit Mantan Presiden B.J Habibie dengan Almarhum istrinya, Ibu Ainun . Bisa dibayangkan pula seandainya dalam film Habibie-Ainun Kota Luwuk ikut menjadi setting, betapa romantisnya. Bahkan menurut beliau Luwuk adalah Hongkong nya Indonesia. Bisa dikatakan benar, karena pada suatu malam saya membuktikan dengan mengendarai motor  menuju dataran tinggi Luwuk tepatnya di titik Keles. Titik Keles adalah lokasi favorit masyarakat Luwuk untuk menikmati keindahan Luwuk di malam hari. Kita akan bisa melihat teluk Lalong yang bentuknya menyerupai  salah satu pelabuhan di Kota Hongkong. Kerlip-kerlip lampu kapal di atas lautan begitu terlihat, apalagi di tepian teluk Lalong yang berseberangan dengan pelabuhan terdapat lokasi berkumpulnya muda mudi Luwuk. Di sana berjajar tempat duduk berderet di tepian  teluk yang diseberangnya dijajakan berbagai makanan. Jadi, kita bisa bersantai sambil menikmati syahdunya malam-malam di Luwuk dengan ditemani deburan ringan air laut di malam hari.
Masih dengan Ibu Kota Luwuk yang menawarkan sejuta kenangan. Dahulu Luwuk menjadi pintu masuk tentara Belanda NICA maupun Jepang untuk menjajah Sulawesi, hal ini karena secara geografis Kota Luwuk berada di daerah pesisir dengan akses yang cukup mudah, bahkan hingga kini kapal-kapal besar di pelabuhan Luwuk merupakan kapal dengan rute nasional. Hal ini yang membuat kita dengan mudah menjangkau Luwuk dengan transportasi kapal jika tidak ada jadwal pesawat terbang, atau menginginkan bentuk perjalanan yang berbeda. Karena sejarah pula, hingga kini di sekitar pelabuhan Luwuk masih bisa kita jumpai bangunan-bangunan tua ber-arsitektur Belanda. Selanjutnya, jika ingin terus menyusuri Teluk Lalong kita akan menemui pasar Kota Luwuk yang sangat penuh sesak. Berada di pasar ini kita akan teringat pasar di Jawa. Hal ini karena sebagian penjual adalah para transmigran Jawa. Kita pun bisa menemukan tempe, makanan kebangsaan masyarakat Jawa. Di pasar ini, masyarakat lokal tak kalah untuk bersaing, mereka menjual berbagai hasil bumi. Salah satu hasil bumi yang banyak mereka jual adalah sayur lilin. Dari luar, sayur lilin nampak seperti jagung namun lebih ramping dan panjang. Jika kita buka, dalamnya seperti telur ikan yang masih keras begitu pula rasanya mirip dengan telur ikan, empuk. Biasanya sayur ini dimakan dengan onyop ,sebutan papeda oleh orang-orang Banggai. Sayur lilin biasa dicampurkan bersama masakan kuah asam dengan ikan kadompe atau tongkol. Hmmm...jadi lapar. Baiklah kita tinggalkan pasar untuk berjalan kembali menyusuri tepian kota Luwuk. Sekitar 2-3 kilometer kita akan menemukan sebuah pantai wisata yang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kamar mandi, kafe dan warung yang menjajakan jagung atau roti bakar,  banana boat, dan peralatan berenang maupun snorkling. Meskipun pantai ini terletak di pinggir jalan, tapi sangat bersih. Kita patut mengacungkan jempol untuk kesadaran masyarakat setempat dalam usahanya menjaga pantai. Dari tepian pantai pula kita sudah bisa melihat betapa jernihnya pantai ini. Saya mencoba untuk diving karena kebetulan tim saya ada yang membawa alat diving, sekitar 5 meter dari tepi pantai saya sudah mulai dapat melihat terumbu karang dan ikan-ikan dengan sisik-sisik indahnya. Cukup mengagumkan bagi saya, di tengah kota kita bisa ber diving ria. Padahal selama ini laut yang masih perawan selalu tersembunyi jauh dari keramaian dan mengharuskan kita mengorbankan banyak hal untuk mengaksesnya.
Saatnya saya meninggalkan kota dan mulai menelusup desa-desa, menemukan yang menurut saya akan lebih menawan daripada kota yang telah mendapatkan banyaka sentuhan. Seperti kebanyakan pulau di luar Jawa, untuk mengakses setiap pusat kecamatan kita harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan medan yang tidak normal tentunya. Namun, bagi saya bukan suatu masalah jika kita berniat untuk menikmatinya. Apalagi tempat yang telah jelas-jelas sangat berbeda dan unik seperti ini.
Untuk pusat kegiatan Ekspedisi, tenda saya berada di desa Salodik Kecamatan Luwuk Timur. Daerah ini berada sekitar 25 kilometer dari pusat kota atau sekitar 1,5 jam dengan jangkauan kendaraan bermotor, baik motor ataupun mobil, tidak cukup berpengaruh karena jalanan di sini tak seramai dan tidak akan ada macet kecuali terjadi longsor. Saya pikir, tinggal di tempat ini tidak akan lebih menarik daripada di kota Luwuk yang tentunya lebih lengkap dari segi fasilitas. Namun, belum sampai lokasi saya sudah mulai ternganga dengan adanya sebuah air terjun yang sangat indah. Air terjun yang saya pikir hanya ada dalam gambar kalender saja. Air terjun Salodik sesuai nama tempatnya tidak cukup tinggi seperti air terjun kebanyakan. Namun, banyaknya titik terjun serta hole air yang terbentuk dengan alami mengalir diantara asrinya hutan tropis dengan pohon-pohon besar berusia ribuan tahun mengelilinginya. Tempat ini sudah mendapat perhatian dari pemerintah setempat dengan adanya fasilitas yang memadai seperti kamar mandi, kamar ganti , pondok-pondok atau gazebo kecil untuk bersantai sejenak dan rumah makan yang menyajikan masakan khas seperti ikan bakar Banggai, pisang lowe dan onyop kuah asam. Dan yang paling menarik tempat ini tepat berada di tepi jalan trans Sulawesi menuju Palu.
Akhirnya sampailah saya di lapangan Salodik. Lapangan yang jika di tengahnya terdapat danau akan menandingi indahnya Ranu Kumbolo Semeru. Kami dikelilingi oleh lima bukit. Salah satu bukit yang mengelilingi lapangan ini ternyata merupakan suaka margatsatwa yang sangat terkenal dengan keragaman satwa langka di dalamnya. Tercatat  di Suaka Margasatwa Lombuyan masih terdapat anoa dan tarsius. Dua binatang tersebut adalah maskot pulau Sulawesi setelah maleo. Bahkan Sulawesi dalam beberapa tahun ini sedang mendapat perhatian yang tinggi dari dunia akan satwa-satwa langka tersebut. Masyarakat Banggai sendiri menyebut daerah Salodik sebagai daerah paling dingin se Banggai karena lokasinya yang berada di ketinggian sekitar 800 mdpl. Saya menikmati sekitar 1 bulan tinggal disini sebelum memulai bertugas sekaligus berwisata.
Salodik memang indah, tapi kadang saya ingin menjelajah sekitarnya yang tidak nampak. Beberapa kali saya bersama anak-anak Salodik yang lucu dan ramah berjalan-jalan atau menaiki bukit di belakang tenda. Ternyata dari atas bukit kita bisa menyaksikan hamparan perbukitan hijau yang mirip dengan bukit Teletubbies dan...apakah anda tahu jika sebuah teluk indah memanjakan mata saya. Teluk Poh, sebuah teluk yang tertutup oleh perbukitan. Saya pun tertarik mendatanginya. Bersama anak-anak dengan menumpang truk sayuran kami menuju pinggiran teluk Poh yang berada di desa Siuna. Sekitar 30 menit perjalanan dengan truk kami melewati desa-desa transmigran yang bagi saya menarik untuk saya kunjungi dalam perjalanan pulang. Kemudian sebelum menuruni bukit kami juga menemukan sebuah padang sabana yang sangat indah berwarna hijau dengan batu-batu berwarna hitam alami tersebar merata dan sapi-sapi putih yang dibiarkan bebas merumput. Saya seperti berada di New Zealand. Kemudian truk terus melaju tanpa menghiraukan saya yang masih terkagum-kagum dengan cipataan Tuhan yang tidak ada duanya. Hingga sampailah kami berada di tepi pantai teluk Poh. Seperti air pada teluk lainnya yang sangat tenang. Kita bebas menyaksikan lembutnya air menyapu daratan. Dan lebih beruntungnya saya ketika kami datang tepat matahari hendak terbenam. Kemilau kuning kemerahan matahari malu-malu menelusup. Lautan bersemu merah berkilauan dan sesekali saya melihat ikan-ikan melompat-lompat seakan turut senang merasakan hangatnya sore itu. Saya bersama anak-anak Salodik yang kebanyakan gundul duduk menghadap teluk dan serasa kompak tak mau beranjak.
Setelah satu bulan menyelesaikan berbagai macam persiapan untuk turun ke lapangan akhirnya kami mulai perjalanan pertama yakni menuju Kecamatan Pagimana. Kecamatan Pagimana terletak di sebelah barat Kecamatan Luwuk Timur. Sekitar 2 jam dengan mobil bak terbuka kami sampai di rumah Ibu Camat. Pagimana cukup ramai untuk ukuran Kecamatan di Kabupaten Banggai. Bahkan cukup banyak tower provider komunikasi yang bisa kita nikmati layanannya. Pagimana dahulu kala adalah pusat perjuangan di zaman penjajahan, di sini pula terdapat rumah Raja Banggai. Di Pagimana pula kita bisa bertemu dengan suku Bajo, pernah mendengar suku Bajo bukan? Suku yang terkenal dengan kehidupannya di Laut. Suku Bajo berada di Desa Jaya Bakti, dan ini terkenal dengan Desa terpadat di Dunia dengan jumlah kepala keluarga sekitar 1000  dan hanya menempati sebuah pulau dengan tidak luas. Berbagai hal menarik yang saya temui di sini pertama tentang mata pencaharian warga sendiri yang mayoritas suku Bajo adalah seorang nelayan atau petani rumput laut, konon orang Bajo tidak bisa hidup jika tidak mendengar suara deburan ombak laut. Kemudian keunikan lain adalah, dalam satu rumah orang Bajo dihuni oleh 2 hingga 5 kepala keluarga. Bisa dibayangkan bukan bagaimana mereka beraktivitas? Dan yang paling unik lagi ialah kambing yang berkeliaran dan dengan mudahnya keluar masuk rumah.
Membahas tentang suku yang berdiam di Kabupaten Banggai terdapat tiga suku, yakni Banggai, Saluan dan Balantak. Ketiga suku ini tersebar di seluruh kabupaten Banggai. Setiap suku memiliki karekteristik budaya dan bahasa yag berbeda. Menurut cerita ketiga suku tersebut terbentuk dari 3 saudara yang mendirikan kerajaannya masing-masing, namun yang sampai sekarang masih berdiri kokoh kerjaannya hanyalah kerajaan Banggai.
Akhirnya, saya sampai juga di perbatasan kabupaten Banggai sisi barat yakni di perbatasan kabupaten Banggai dengan Kabupaten Tojo Una-una, menuju tempat ini cukup jauh dan melelahkan. Untungya saya sempat mampir di sumber air panas, namun berada di tepi pantai. Sumber air panas Pulo Dalagan sangat indah yang secara geologis dapat dijelaskan bahwa kemungkinan di sekitar pantai itu pernah atau masih terdapat gunung aktif semacam Krakatau. Di perbatasan yang jauh dari sarana listrik dan saya hampir tidak bisa menikmati layanan full signal sehingga sejenak selama seminggu tidak mengetahui kabar keluarga. Hanya beberapa keluarga yang tinggal di tengah hutan seperti ini, televisi adalah barang yang sangat menghibur ditengah kegelapan. Masyarakat mengandalkan genset. Karena letaknya yang berada diperbatasan pula, masyarakat mayoritas adalah suku wana. Yakni suku mayoritas di Kabupaten Tojo Una-una. Mereka juga sulit untuk berbahasa Indonesia. Dan yang paling unik ialah nama mereka adalah benda yang mereka baru dengar seperti pak gergaji, bu televisi hingga anaknya yang diberi nama komputer. Sebaliknya, Anjing mereka bernama manusia terkenal seperti Krisdayanti atau Anjasmara.
Selain 3 suku mayoritas yang mendiami Kabupaten Banggai, terdapat transmigran  yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kemajuan masyarakat di Kabupaten Banggai. Misalnya ketika saya mengunjugi Kecamatan Simpang Raya dan Kecamatan Toili. Disini transmigran Jawa dan Bali adalah mayoritas. Bahkan kita bisa bisa sangat mudah menemui perkampungan yang tidak jauh seperti di Bali. Ketika saya sengaja berfoto di depan Pura rumah penduduk  transmigran Bali kemudian sengaja saya upload di sosial media banyak yang terkecoh bahwa mengira saya sedang di Bali. Begitu pula ketika saya di Desa Sumber Mulya Kecamatan Simpang Raya, saya seperti kembali pulang. Rindu saya terobati dengan bisa bebas berbahasa jawa dengan seluruh penduduk transmigran asal Banyumas.
Di pertengahan kegiatan saya beruntung bisa melihat  burung Maleo. Burung yang terkenal pemalu itu saya saksikan di pantai Taima Kecamatan Bualemo, tepatnya di tempat penangkaran dan konservasi Alto. Alto adalah LSM yang bergerak di bidang konservasi burung maleo dan penyu di Kabupaten Banggai yang didanai dari dari luar negeri. Mengintip maleo dari atas tower kayu selama 2 jam akhirnya saya melihat sepasang maleo. Mana mungkin juga maleo disini tidak betah jika pantai Taima sangat indah.
Mendekati bulan terakhir di Kabupaten Banggai, saya berkesempatan ke Raja Ampat. Lho? Bukannya Raja Ampat di Irian Jaya ? Bukan, mungkin ini efek kekaguman saya yang menjadi. Setelah hampir 18 kecamatan saya datangi dengan keragaman yang tentunya tidak dapat saya lupakan begitu saja. Akhirnya saya sampai pula di Pulo Dua. Mungkin mendengar namanya kurang menarik. Bisa dibanyangkan bahwa Pulo Dua hanyalah dua pulau kecil yang bisa dikelilingi dengan sampan kecil. Oh tapi jangan salah, pulau ini jauh lebih indah dan menawan dari yang anda bayangkan.
Pulau dua terletak di antara dua desa yakni Desa Kampangar dan Desa Pulo Dua. Akses terdekat ialah dari kota Luwuk kita mengendarai mobil atau bis yang waktu pemberangkatannya tidak dapat diperkirakan. Sekitar 5 jam kita menuju Kecamatan Balantak Desa Kampangar. Dari Desa Kampangar sudah terlihat Pulo Dua ada di depan mata kita. Dengan menyewa perahu sedang senilai tiga ratus ribu rupiah yang bisa mengangkut maksimal 15 orang beserta pelampung kita akan diantar ke Pulo Dua. Pulo pertama kita akan menemukan penginapan yang akan dibuka jika ada yang memesan. Di belakangnya kita bisa melihat bukit Lukapan yang menambah eksotisnya perjalanan. Kemudian sekitar 10 menit kita mengelilingi sisi timur pulo dua yang langsung menyatu dengan laut Maluku. Pulo dua memang terdiri dari dua pulo besar. Namun, terdapat banyak pulo-pulo kecil yang mengelilingi melindungi dari laut maluku sehingga jika kita melihat dari puncak Pulo Dua seakan seperti kolam kecil. Kolam kecil itu pula lah surganya diving. Kima kima yang menganga seperti siap disantap. Teripang bergelimpangan pasrah di dasar-dasar laut. Terumbu karang tidak hanya satu warna. Seelok pelangi perjalanan saya ditutup oleh keajaiban yang belum terekspos seperti Bunaken atau Tana Toraja.
Terimakasih, di antara jajaran pulau Indonesia. Saya menemukanmu. Banggai.......

Komentar